

Dekat
Perjalanan semakin dekat
Perjalanan semakin berat
Manusia semakin tergoda
Makna puasa semakin terlupa
Tuhan mendekat, manusia menjauh.
Tuhan bersembunyi suatu malam, di balik bulan.
tapi manusia berlari dari-Nya,
menyibukkan diri dengan dunia.
Nafsu yang terkekang sepanjang siang,
menemukan bentuknya di pusat perbelanjaan.
Semakin dekat, langkah kian gontai.
Hati tak lagi tertata, masjid kian lengang.
Darimana datangnya kesucian jiwa,
jika enggan bertemu Tuhan, untuk sekedar menyapa.
Tak ada yang bisa didapatkan dengan berdesakan di kereta,
selain sebuah alasan untuk melupakan-Nya.
Tuhan tidak kemana-mana, manusia tak perlu mengejar-Nya.
Konon, Dia lebih dekat daripada urat leher kita.
Tetapi, betapa sulit meminta maaf padanya,
mohon ampun atas dosa-dosa,
mengakui bahwa kita telah meninggalkan-Nya.
Betapa manusia tak berani menatap wajah-Nya,
takut akan segala murka.
Padahal, Dia Sang Pemurah dan Penyayang.
Perjalanan semakin mendekati akhir,
tapi mausia kian menjauh.
Jauh dari segala makna.
Merayakan kesucian hanya sebagai tanda.
Tubuh mungkin menjelma baru,
tapi tidak bagi jiwa, hati juga masih yang lama.
Nafsu masih saja membelenggu.
Betapa sulit manusia mendekati-Nya.
Betapa bahagia mereka yang bisa menjadi kekasih-Nya.
1 komentar:
lam kenal ya....
sepertinya aku mengenalmu, he2
Post a Comment