

Sejuta maaf terucap
melalui telepon, pesan pendek, dan kartu.
Segunung dosa runtuh,
ketika tangan berjabat, wajah menyentuh pangkuan.
Setetes air mata jatuh
mengiringi haru biru kesucian.
Lalu aku hanyut dalam pesta kemenangan
walau aku masih merasa kalah.
Kalah dari nafsu yang masih menggeliat.
Tetapi kemenangan atas hapusnya
dosa antar sesama harus dirayakan bersama,
agar suka cita menjadi kenangan indah,
sebelum berpisah lagi setahun lamanya.
Dosa kepada Tuhan?
Ah,toh aku bertemu dengannya tiap hari, lima waktu.
(Pikirku) Minta maaf pada-Nya bisa dilakukan setiap waktu,
walau dosa pada Tuhan bertumpuk karena berjuta kelalaian.
Sementara waktu kian menyurut, dan langkah semakin tersudut.
Betapa aku ingin menangis di pangkuan-Nya,
saat hari suci kemenangan itu datang.
Tetapi terlalu banyak waktu terbuang
untuk bersalaman, meminta maaf, juga berpesta.
Terkadang aku ingin sendiri
di tengah hingar-bingar keriangan,
sekedar merenung, menemukan kembali bahwa
aku hanyalah manusia yang terlalu sombong,
mengaku tak punya dosa, tak punya kesalahan.
Padahal, dosa yang terlanjur dilebur,
mengeras dan mengerak lagi di dasar hati.
In My Hometown,
1 Syawal 1427 H
0 komentar:
Post a Comment