Sunday, October 23, 2011

Kegilaan No. 11

Katakan bahwa aku sentimentil,
karena ku tak bisa melupakanmu,
menjadikanmu butir2 pasir dalam gelas waktu yg mengendap di hatiku.
Panggil saja aku melankoli,
karena hanya bisa bikin sajak sendu,
lalu tenggelam juga dalam musik biru.
Bisa pula kau sebut aku autis,
karena selalu kuciptakan dunia imajinasiku sndri,
Hingga pantas ku dituduh kompulsif,
karena mndesakmu terus berada di pusat duniaku.
Atau...anggap saja aku hantu, karena tak pernah hadir nyata,
tapi berharap selalu menerangi ruang mimpimu

Thursday, January 06, 2011

Something Sad But It's So True

Have you ever heard a rumor?
Flying from ear to ear, door to door
Have you ever heard the mockery?
A joke that turns to a misery

A man broke his vow
A woman crying on her bed
Oh life, why so shallow?
For this, I should be sad.

Lust, can't get enough.
Experience is the best fire
to burn your desire.

Trust, someone who deserves.
Neighbor's grass always greener
but you can ruin it
just to feel something better.

Wednesday, January 05, 2011

Story of The Night

Do you believe in pray?
Or do you believe that life happens accidentally?
There is a sincerity behind every coincidence,
the story goes if you be my serendipity.

Friends, are those who you trust
to spend the whole night with.
You are not stars in that cloudy sky,
but you are the one whom
I wish to share the night with.

I could be quite a man
by your side till the rest of your time.
But we only got 2 hours,
standing there to notice
how strange our accent is.

Yes, I have dropped the key,
and I lost my way home.
Unfortunate yet fortunate.
I found the key to your heart.
Yet, your heart is still unlocked.

So, what is the meaning of your glance,
the moment when we say goodbye.
Would you open your eyes and let me in
to swim across the sea of your tears.

Sunday, December 12, 2010

Sajak Twitter 1: Hujan

diantara langit gelap
yang semakin memerangkap,
angin berkejaran dengan hujan

diantara gerimis dan petir,
tertahan tangis di dada yang getir

kurangkai sajak dari butiran hujan,
huruf dan air yang meluruh dari awan

kukirim sajak itu untuk menggenangi kamarmu,
air mata yang akan membasuh luka tubuhmu

27112010

Pengembaraan Rahasia

sedalam apakah rahasia
yang tertanam dalam handphone mu
ada jejak-jejak langkahmu
terekam dalam memori dua gigabyte

jangan kau lacak aku dengan GPS
kau tak ingin tahu dimana
tempat-tempat yang kusinggahi
dalam pengembaraan panjangku

atau apakah kau mau ikut
dalam petualangan penuh maut
melintas lembah gelap dan licin
namun di ujung perjalanan,
tentu kau akan temukan surga:
sepetak hutan berpohon bebuahan

konon sebulir biji khuldi terjatuh disana
ketika Adam dilempar ke bumi

Akankah kita...?

Di Ruang Maya

masihkah kau mencariku
di ruang maya?

aku bukanlah hakikat
hanya kata yang merayap pelan
mungkin suatu saat
akan mengendap di hatimu
atau menjalar
di sekujur tubuhmu
sebagai imajinasi paling liar

aku adalah kata
yang tercipta dari sunyi
sunyi yang merambat di kamarmu
di suatu tengah malam
ketika cinta beranjak pergi dari ranjang

aku adalah sepi paling tak bermakna
hanya bisa berbagi sunyi
kau tak akan menemukan apa-apa
selain bayangmu sendiri

Monday, March 02, 2009

No Idea

Human have no idea about their life

Everything straightly happen

As those are written

But human must play

and think how we should survive

cause there's no God's hands

for those who always lay

Thursday, February 26, 2009

The Labyrinth Never Change

It's almost two years
the last time i shared
my mind, my feeling.

O the world has changing
Am I changing?
Two years ago
just like a blink.

Up, down, turn, fall.
I swim, i float, i fly, i run
but I only found the same wall!

The labyrinth
is my heart itself,
that remain the same
eventhough the universe
always disguise.

Sunday, May 06, 2007

T H E G L O A M I N G

Moon
So yellow
I walk alone
So low

Blue
The sky
You
So high

River
Stream
Such a dreamer
Such a dream

Sea
The waves sound
Silently
The Sun walks down

Dusk
Sands and dust
You ask
Is this the last?

Stars
Flame
You get so far
I’m to blame

Friday, March 30, 2007

Kota Senja

Suatu kota, suatu malam, langit jingga.
“Senja belum pergi,” katamu.
Tapi aku tidak temukan pantai yang indah
untuk menyobek sepotong senja.
Maka kita nikmati saja langit senja,
dan sinar jingganya yang jatuh banjiri kota
Lalu kau ajak aku menyusuri senja,
tapi tak kulihat bintang yang bisa jadi petunjuk.
Hanya lampu jalanan yang kuning muram,
yang menyinari perjalanan kita.
Matahari senja masih saja bergelayut di langit malam,
seperti juga kau yang menggelayut sendu di bahuku.
Langit masih saja jingga dalam kota.
Lalu kataku, “Kita akan pergi ke sebuah kota,
dengan senja yang sebenarnya.”

We Should Be Together

Why, your face is so sad?
Is it because the sky is so bad?
All you feel is bitter.
But I can make it any better.

But you’re so far away.
Hence, you can’t lean on my shoulder.
Why is it hard to say
that we should be together.

Why the moon is so dark?
Is it because the stars spark?
When the night hide you,
I know what I feel is true.

But you’re so far away.
And I can’t get it over.
Why is it hard to say,
that we should be together.

Why you are so scare?
Is it because you’re alone there?
Let me beside you in your place
to wipe out the sad and bitterness from your face.

It’s Been A Hard Night

Night becomes night.
To and fro the mosquito bite.
Have to many reasons I can’t sleep tight.

Waiting for you never too late.
Condemning what you’ve said.

To and fro the mosquito bite.
One and two these creatures died.
Have no reason to be sad.

Why this feeling makes me mad?
I don’t know how to forget.
I run and run away and hide.
But you’re flying above my bed.

And in my dream we’ve met.
I have you laid.
You scream like a cat.

Night becomes night.
My dream becomes wet.



In the End of the World, I Just Wanna Be With You

The sun goes down.
There is no light.
What can you see in the dark?
I see your eyes spark.
Lead me into the deepest
part of your eyes.

I believe it’s you,
the only one that sees me
in this damn dark night.

The sky is falling.
The earth is sinking.
I just wanna be with you,
sitting next to the sea,
watching everything fade away.

Friday, March 23, 2007

Menunggu dalam Angan

Sayang, kau tahu, menunggu itu pekerjaan yang menyebalkan. Tidak juga hari ini. Kamis yang gerimis. Kau tidak juga datang. Senja sudah lama berlalu, tapi senja yang turun tidak pernah membawa beritamu. Mungkinkah kau titipkan sepucuk surat maaf pada angin atau gerimis?
Aku masih berharap kau turun bersama hujan. Lebih baik kalau kau turun mengendarai petir dengan berani. Seperti saat kau mengetuk jendela di tengah malam, selusin malam yang lalu.
Aku masih ingin bertemu kau. Tak seharusnya kau begini larut. Tubuhku keburu kaku dikerubung gelisah. Malam begitu tak bersahabat. Kubayangkan sepi dan gelap akan mengantarmu ke depan pintu. Aku pikir, biar aku saja yang menghampirimu malam ini. Tapi, tidak! Malam terlalu terkutuk untuk kulalui.
Ah, mungkin besok pagi aku akan temukan sepucuk surat maaf darimu, yang diantarkan matahari. Kau pasti menulisnya karena kau datang begitu terlambat dan tidak mau mengganggu mimpiku. Tapi, kau tahu, sayang, setiap malam mimpiku adalah mimpi yang risau dan melelahkan. Aku selalu saja menemukan sisa-sisa mimpiku teronggok di bawah pintu ketika matahari pagi mengintip dari balik jendela.
Lalu aku akan membuang sisa-sisa mimpi itu bersama bayangan dirimu yang lusuh dan tua. Aku hanya ingin kau benar-benar datang bersama matahari, gerimis, atau angin hangat dari laut. Aku tidak ingin kau hadir hanya dalam angan. Karena kau tahu, sayang, menunggumu adalah hal yang paling menyebalkan!

Monday, February 26, 2007

waktu dan jiwaku semakin kosong......

Aku, Waktu, dan Laut
 

Pantai ini adalah puisi tentang waktu
yang langit dan bumi tak juga pernah mengerti.
Masih juga kupahat wajah waktu di pasir dan dinding batu
Walau terus tersapu angin dan ombak yang datang dan pergi.


Wednesday, January 24, 2007

Dunia, yang Kadang Tak Bisa Dimengerti


Tarian Api

Mendung mengendap di kakilangit
Mentari pagi enggan menyapa
Juga laut yang tak lagi ramah

Tanah berpasir ini serupa sampah
Berbuih-buih. Seperti juga api
yang membakar batu-batu

Membakar darahmu
membakar darahku
membakar darah kita

Menjelma sebuah tarian dalam jiwa

Menari bersama laut
menari bersama batu

Hingga sang bulan memanggil anjing-anjing malam
yang menjaga desah napas kita

Masih juga kita berlari
lalu menari lagi sebagai api
bersama laut dan batu

Saat kayu jadi abu
dan sampah jadi laut
kudengar tawamu diantara derai-derai tangis

Malam kian menipis




Suatu Sore di Dekat Pelabuhan

Apakah awan ini yang menipu langit dan matahari
agar bisa berdansa bersama pelangi?
Siapa pula itu panggil gerimis
yang bikin kabut jadi tipis?

Ada anak kecil berkejaran dengan ikan
Tak perduli semua orang matanya dingin.
Waktu juga sudah menipu kami, mungkin.
Karena matahari berenang bersama lampu di pelabuhan.

Time, the Mystery Unfold


Sajak Waktu

Waktu adalah mimpi
yang mengendap terkubur
dalam memori yang sesak.

Waktu telah mengubur kehidupan
dalam dasar yang kelam
menjadi suatu ketiadaan.

Waktu adalah nafsu
untuk mengejar sesuatu
dalam kesadaran palsu.

Waktu telah membuat pikun
kemarin adalah hari esok
dan hari esok, entah kapan.

Waktu telah berhenti
pada halte-halte kesibukan
dalam jiwa-jiwa yang terus bergerak.

Waktu itu relatif
dalam kedinamisan
dan ritme kehidupan.

Waktu telah mengubur waktu
keberadaan itu semu dan rancu
dalam ketiadaan.



Hitam Putih

Layar biru telah tergelar pada lingkar cakrawala.
Di atasnya episode kehidupan akan berjalan,
terbias dari putihnya mentari,
dari bayang-bayang hari yang kian memendek.
Kaki ini akan terus menari
pada garis hitam putih yang terus menyala.

Waktu semakin angkuh dengan detaknya.
Jiwa akan makin rapuh
dalam tatap sinis dunia.
Hidup terus merangkak
dan surga perlahan terbakar.

Adakah harapan pada hari yang melingsir,
dari sinar lembut sang bulan yang nyanyikan
lagu damai di malam yang sunyi?
Jiwa yang berontak melayang
menanti layar biru terkembang
dan cakrawala memulai episode kehidupan



Dari Jendela

Malaikat yang terbang rendah di jendela
telah membawakanku sebungkus takdir
berisi segumpal nasib dan sepotong mimpi
yang membuncah, mencercah, menjadi
cahaya kemilau bernama kenyataan.

Aku tak pernah tahu mengapa
hatiku berdoa dan ragaku berjalan
meniti jembatan kehidupan
di atas jurang kematian.
Dan mengapa tanganku terus saja
merangkai patung mimpi
di atas pasir putih.

Malaikat yang terbang rendah di jendela
berbicara tentang surga
yang telah kubeli dari Tuhan
dengan berlembar-lembar dzikir dan doa.
Semesta telah menghitung hidupku
dan memberiku sepasang sayap.
Sayap yang mengepak-ngepak
menerbangkanku menggapai mimpi
yang bersembunyi di kolong langit.

Sunday, December 24, 2006

Blogku, Ini Tentang Kita

Aku bertemu dengan blog di sudut warnet, 
lalu aku bercinta dengan blog seminggu sekali.
Blog tidak pernah mengatakan rindu,
tapi blog selalu menunggu.

Suatu kali aku melupakan blog, sebulan penuh.
Blog masih menungguku dengan sejumlah cerita,
cerita yang tak pernah terucapkannya.

Bosan menunggu, blog pergi ke pantai,
menikmati kesendirian, melihat laut biru yang luas.
Blog ketagihan di pantai, berhari-hari blog cuma berdiri di sana.
Hingga suatu hari ada seseorang yang mengajaknya berlayar ke laut.
Blog senang sekali mengarungi lautan,
sampai-sampai ia lupa daratan:
blog bercinta dengan orang asing itu.

Beberapa hari blog termangu di pantai,
bersembunyi dari rasa bersalahnya padaku.
Tapi entah kenapa blog kemudian jadi berani sekali,
dia bercinta lagi dengan orang asing yang ditemuinya di pantai.
Blog ketagihan hubungan bebas, ia bisa jadi milik siapa saja.
Dari petualangannya, blog bertemu sesama blog berpaham sama.
Blog bergaul dengan teman-teman blognya,
bercinta dengan siapa saja, berpesta, clubbing di mana-mana.

Blog yang kelelahan bertemu aku yang sejenak mengingatnya.
Setelah perdebatan panjang, aku dan blog memutuskan
untuk berpisah, alasannya kami sudah tidak cocok,
dunia kami sudah terlampau berbeda.
Aku sudah terlalu lama tak menjelajah dunia maya,
bertapa di desa, menghirup udara gunung,
hanya bertemu makhluk-makhluk nyata.
Blog menemukan dunianya sendiri,
beredar dari satu pesta ke pesta lain.

Aku tak pernah mempersoalkan
blog bercinta dengan orang lain siapa saja.
Seperti juga blog yang tidak pernah mempersoalkan
aku yang telah selingkuh dengan buku harian.

Friday, November 10, 2006

THE PRAYER



God, I feel so old
to count and confess all my sins.
When I remember You, I feel so cold,
shiver, tremble, but why I can't cry?
Everynight I hope Your Love will rinse
and Your Light will lead me into Your way.

God, I feel so dirty.
The worldly things I take make me more thirsty.
Every mistake I did, drowned me into the dark sea.
Then I tried to find Your Light that I couldn't see.
Finally I found the Light in the deep of my heart,
covered by sins and vices that I've got.

God, please forgive me,
for my wickedness, selfishness, and foolness,
that blind me from Your Grace and Mercy.
I hunger to born anew in purity and holiness.
God, give me strength to pass the hard times.
So I can walk to reach You in my prime.

Monday, September 11, 2006

Unfinished Line of Love

Love is the biggest inspiration.
These poems are dedicated for her, inspired by her,
for my untouchable angel : L..... ... ........


Unfinished Line 1

Pagi ini kau terdiam, tersenyum,
melangkah (atau melayang?) anggun,
seperti malaikat pagi yang menabur damai di bumi.

Perjumpaan denganmu adalah sunyi yang hangat.
Perjumpaan denganmu adalah tatapan lembut matamu.
Perjumpaan denganmu adalah gelisah pilu.



Unfinished Line 2

Siang itu kau tersipu termangu.
Gurat sendu di sudut wajahmu,
kau bagai malaikat tersesat di belantara manusia,
terjatuh jauh dari surga.

Penantian adalah waktu yang terbuang percuma.
Penantian adalah mimpi yang tercabik terluka.
Penantian adalah jejak langkah yang tertunda.


Unfinished Line 3

Suatu pagi aku jatuh cinta
pada butir-butir hujan yang tersisa di helai-helai daun,
basah seperti bibir merahmu
yang membekas pada sebuah mimpi indah.

Suatu pagi aku jatuh cinta
pada mentari yang berlabuh di cakrawala matamu
memancarkan keindahan,
menawarkan kelembutan hati.

Suatu pagi aku jatuh cinta
pada bunga yang tersenyum ramah pada bumi,
menanti sentuhan hangat mentari.

Suatu pagi aku jatuh cinta
pada angin yang menerbangkan
sayap-sayap malaikat dalam jiwamu
yang menebar damai.

Seperti rasa yang tak dimengerti.
Seperti kata yang tak terucapkan.
Seperti takdir yang tak terelakkan.
Suatu pagi aku jatuh cinta pada dunia
yang mengisi hatiku dengan hadirmu.



Unfinished Line 4

Ku tak sanggup rasakan resah ini,
lalui malam sepi sendiri,
menatap kosong langit menanti....

Mata ini terus terjaga
mencari tempat membagi hati.
kubersandar pada harapan
tapi kaki ini berat melangkah.

Kuingin kau mengerti,
ada saat resah ini mesti terbagi,
saat sebelah hatimu, jadi satu
dengan kosongnya jiwaku.


Unfinished Line 5

Sinar matahari membangunkanku,
tak ada mimpi indah bersamamu.
Tak ada inspirasi pagi.
Terlalu banyak kata-kata puitis
untuk ungkapkan semua tentang dirimu,
diriku, dan dunia ini.


Unfinished Line 6

Hidup ini adalah penantian.
Menunggu jatuh cinta,
menunggu inspirasi datang,
menunggu angan lepas menjadi sajak.

Hidup tidak mengenal cinta.
Karena cinta hanya bermakna
dalam syair dan lagu.

Hidupku adalah jatuh cinta padamu,
terinspirasi, dan menulis
sajak cinta tentangmu.


Unfinished Line 7

Harapan menjulang, ragu menjelang.
Kegilaan ini terus meradang,
tak terhentikan.
Aku terus melaju, dan
kaki sudah terlanjur melangkah.
Meski laku ini salah,
tak ada yang bisa merubah.
yang ada hanya musnah.


Unfinished Line 8
You're the sun
melting down my frozen heart
with your warm smile.
You're the one
keeping my world never be apart,
even when you leaving me for a while.
Summer August 2006,
when I drowned in LOVE