Aku, Waktu, dan Laut
Pantai ini adalah puisi tentang waktu
yang langit dan bumi tak juga pernah mengerti.
Masih juga kupahat wajah waktu di pasir dan dinding batu
Walau terus tersapu angin dan ombak yang datang dan pergi.
Hidup mengalir seperti sajak, sebaris demi sebaris, sebait demi sebait, hingga kau menemukan akhir yang tak terduga. Hidup adalah metafor, penuh misteri, teka-teki yang tersembunyi dalam labirin hatimu sendiri. Kau harus tahu seberapa besar bawah sadarmu, mimpi-mimpimu merasuki setiap langkahmu. Dan akhirnya kaupun harus sadar bahwa hidupmu adalah puisi yang harus kau maknai sendiri.
Monday, February 26, 2007
Wednesday, January 24, 2007
Dunia, yang Kadang Tak Bisa Dimengerti
Tarian Api
Mendung mengendap di kakilangit
Mentari pagi enggan menyapa
Juga laut yang tak lagi ramah
Tanah berpasir ini serupa sampah
Berbuih-buih. Seperti juga api
yang membakar batu-batu
Membakar darahmu
membakar darahku
membakar darah kita
Menjelma sebuah tarian dalam jiwa
Menari bersama laut
menari bersama batu
Hingga sang bulan memanggil anjing-anjing malam
yang menjaga desah napas kita
Masih juga kita berlari
lalu menari lagi sebagai api
bersama laut dan batu
Saat kayu jadi abu
dan sampah jadi laut
kudengar tawamu diantara derai-derai tangis
Malam kian menipis
Suatu Sore di Dekat Pelabuhan
Apakah awan ini yang menipu langit dan matahari
agar bisa berdansa bersama pelangi?
Siapa pula itu panggil gerimis
yang bikin kabut jadi tipis?
Ada anak kecil berkejaran dengan ikan
Tak perduli semua orang matanya dingin.
Waktu juga sudah menipu kami, mungkin.
Karena matahari berenang bersama lampu di pelabuhan.
Time, the Mystery Unfold
Sajak Waktu
Waktu adalah mimpi
yang mengendap terkubur
dalam memori yang sesak.
Waktu telah mengubur kehidupan
dalam dasar yang kelam
menjadi suatu ketiadaan.
Waktu adalah nafsu
untuk mengejar sesuatu
dalam kesadaran palsu.
Waktu telah membuat pikun
kemarin adalah hari esok
dan hari esok, entah kapan.
Waktu telah berhenti
pada halte-halte kesibukan
dalam jiwa-jiwa yang terus bergerak.
Waktu itu relatif
dalam kedinamisan
dan ritme kehidupan.
Waktu telah mengubur waktu
keberadaan itu semu dan rancu
dalam ketiadaan.
Hitam Putih
Layar biru telah tergelar pada lingkar cakrawala.
Di atasnya episode kehidupan akan berjalan,
terbias dari putihnya mentari,
dari bayang-bayang hari yang kian memendek.
Kaki ini akan terus menari
pada garis hitam putih yang terus menyala.
Waktu semakin angkuh dengan detaknya.
Jiwa akan makin rapuh
dalam tatap sinis dunia.
Hidup terus merangkak
dan surga perlahan terbakar.
Adakah harapan pada hari yang melingsir,
dari sinar lembut sang bulan yang nyanyikan
lagu damai di malam yang sunyi?
Jiwa yang berontak melayang
menanti layar biru terkembang
dan cakrawala memulai episode kehidupan
Dari Jendela
Malaikat yang terbang rendah di jendela
telah membawakanku sebungkus takdir
berisi segumpal nasib dan sepotong mimpi
yang membuncah, mencercah, menjadi
cahaya kemilau bernama kenyataan.
Aku tak pernah tahu mengapa
hatiku berdoa dan ragaku berjalan
meniti jembatan kehidupan
di atas jurang kematian.
Dan mengapa tanganku terus saja
merangkai patung mimpi
di atas pasir putih.
Malaikat yang terbang rendah di jendela
berbicara tentang surga
yang telah kubeli dari Tuhan
dengan berlembar-lembar dzikir dan doa.
Semesta telah menghitung hidupku
dan memberiku sepasang sayap.
Sayap yang mengepak-ngepak
menerbangkanku menggapai mimpi
yang bersembunyi di kolong langit.
Sunday, December 24, 2006
Blogku, Ini Tentang Kita
Aku bertemu dengan blog di sudut warnet,
lalu aku bercinta dengan blog seminggu sekali.
Blog tidak pernah mengatakan rindu,
tapi blog selalu menunggu.
Suatu kali aku melupakan blog, sebulan penuh.
Blog masih menungguku dengan sejumlah cerita,
cerita yang tak pernah terucapkannya.
Bosan menunggu, blog pergi ke pantai,
menikmati kesendirian, melihat laut biru yang luas.
Blog ketagihan di pantai, berhari-hari blog cuma berdiri di sana.
Hingga suatu hari ada seseorang yang mengajaknya berlayar ke laut.
Blog senang sekali mengarungi lautan,
sampai-sampai ia lupa daratan:
blog bercinta dengan orang asing itu.
Beberapa hari blog termangu di pantai,
bersembunyi dari rasa bersalahnya padaku.
Tapi entah kenapa blog kemudian jadi berani sekali,
dia bercinta lagi dengan orang asing yang ditemuinya di pantai.
Blog ketagihan hubungan bebas, ia bisa jadi milik siapa saja.
Dari petualangannya, blog bertemu sesama blog berpaham sama.
Blog bergaul dengan teman-teman blognya,
bercinta dengan siapa saja, berpesta, clubbing di mana-mana.
Blog yang kelelahan bertemu aku yang sejenak mengingatnya.
Setelah perdebatan panjang, aku dan blog memutuskan
untuk berpisah, alasannya kami sudah tidak cocok,
dunia kami sudah terlampau berbeda.
Aku sudah terlalu lama tak menjelajah dunia maya,
bertapa di desa, menghirup udara gunung,
hanya bertemu makhluk-makhluk nyata.
Blog menemukan dunianya sendiri,
beredar dari satu pesta ke pesta lain.
Aku tak pernah mempersoalkan
blog bercinta dengan orang lain siapa saja.
Seperti juga blog yang tidak pernah mempersoalkan
aku yang telah selingkuh dengan buku harian.
lalu aku bercinta dengan blog seminggu sekali.
Blog tidak pernah mengatakan rindu,
tapi blog selalu menunggu.
Suatu kali aku melupakan blog, sebulan penuh.
Blog masih menungguku dengan sejumlah cerita,
cerita yang tak pernah terucapkannya.
Bosan menunggu, blog pergi ke pantai,
menikmati kesendirian, melihat laut biru yang luas.
Blog ketagihan di pantai, berhari-hari blog cuma berdiri di sana.
Hingga suatu hari ada seseorang yang mengajaknya berlayar ke laut.
Blog senang sekali mengarungi lautan,
sampai-sampai ia lupa daratan:
blog bercinta dengan orang asing itu.
Beberapa hari blog termangu di pantai,
bersembunyi dari rasa bersalahnya padaku.
Tapi entah kenapa blog kemudian jadi berani sekali,
dia bercinta lagi dengan orang asing yang ditemuinya di pantai.
Blog ketagihan hubungan bebas, ia bisa jadi milik siapa saja.
Dari petualangannya, blog bertemu sesama blog berpaham sama.
Blog bergaul dengan teman-teman blognya,
bercinta dengan siapa saja, berpesta, clubbing di mana-mana.
Blog yang kelelahan bertemu aku yang sejenak mengingatnya.
Setelah perdebatan panjang, aku dan blog memutuskan
untuk berpisah, alasannya kami sudah tidak cocok,
dunia kami sudah terlampau berbeda.
Aku sudah terlalu lama tak menjelajah dunia maya,
bertapa di desa, menghirup udara gunung,
hanya bertemu makhluk-makhluk nyata.
Blog menemukan dunianya sendiri,
beredar dari satu pesta ke pesta lain.
Aku tak pernah mempersoalkan
blog bercinta dengan orang lain siapa saja.
Seperti juga blog yang tidak pernah mempersoalkan
aku yang telah selingkuh dengan buku harian.
Friday, November 10, 2006
THE PRAYER


God, I feel so old
to count and confess all my sins.
When I remember You, I feel so cold,
shiver, tremble, but why I can't cry?
Everynight I hope Your Love will rinse
and Your Light will lead me into Your way.
to count and confess all my sins.
When I remember You, I feel so cold,
shiver, tremble, but why I can't cry?
Everynight I hope Your Love will rinse
and Your Light will lead me into Your way.
God, I feel so dirty.
The worldly things I take make me more thirsty.
Every mistake I did, drowned me into the dark sea.
Then I tried to find Your Light that I couldn't see.
Finally I found the Light in the deep of my heart,
covered by sins and vices that I've got.
God, please forgive me,
for my wickedness, selfishness, and foolness,
that blind me from Your Grace and Mercy.
I hunger to born anew in purity and holiness.
God, give me strength to pass the hard times.
So I can walk to reach You in my prime.
Subscribe to:
Posts (Atom)